560 New Poster

Another poster produced this week by me. It seems I always get poster design order lately.
554 New Gig in Town
Finally “Arrington de Dionyso’s Malaikat dan Singa” will be in Bandung on the 10th of October and I’m the one who design the poster. The poster will be screenprinted and scattered around Bandung. Make sure you guys catch the event and hunt the poster, cheers!
547 Upcoming exhibition and event
My upcoming group exhibition @ Titik Oranje Bandung on July 29th till Aug 29th. And on the same day as the exhibition’s opening, there will be held a garage sale. Click the poster for more info
541 Performance Art Festival
Here are the poster and catalog I made for Asbestos Art Space, which advertise the Open Space, Performance Art Festival event. 12 artists from Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Sukabumi and Singapore will participate in 2 days Performance Art Course and they will perform on July 23rd. More info, click on the poster and the catalog.
535 Delusional Space

‘PASCAL: “Men are so necessarily mad, that not to be mad would amount to another form of madness.” And Dostoievsky, in his DIARY OF A WRITER: “It is not by confining one’s neighbor that one is convinced of one’s own sanity.”’ – MADNESS AND CIVILIZATION by Michel Foucault
Madness runs deep in mankind’s history, it creates layers delusion from generation to generations until the root disappeared, but nevertheless it’s the vital part of social evolution. Nobody will grow up without being delusional, because everyone influences their madness to the others. I didn’t say being delusional is a terrible human experience, it’s a double edge sword, either side of the edge is a dualism that holds the key of enlightenment if we are dare to explore.
Delusion is another form of distraction, based on interest of essence. Schizophrenia, if you must say is a mental illness that basically distracts a person from the previous state which we believe is the normal state, into a state that holds his/hers most interest. In one subject matter, any state doesn’t hold any importance of truth, but in collective matter it is the opposite. In collective matter, the subject became deluded, distracted, foolish, crazy, etc. The truth is based on the repetition of proving the truth itself that collectively accept.
522 Kerensa’s Response on INI PERANG

Bapak Aminudin Siregar (atau lebih dikenal sebagai Ucok, dari Bandung) membuka pameran tersebut. Bagi dia, pameran dengan modus residensi bersama sudah lama tidak muncul sejak reformasi, sejak seniman masih berkumpul bersama dan berkarya bersama. Dia menekankan dalam sambutannya bahwa apa yang sedang kita saksikan adalah proses yang disiratkan di karya seniman dari Kembang Gula Rasa Baru dan bahwa penemuan mereka selama ini akan terus berlanjut. Lousie sebut dengan manis, “Dibawa tekanan seni, seniman butuh ‘SEX’ Ha.. ha… ha.. Solo experiment dan perkerjaan seni yang dikerjakan dari personal menuju karya communal – dimana karakter setiap individual tetap kuat walaupun satu waktu personal.”
Setelah Pidato dari Bapak Nandanggawe dan dilanjutkan Bapak Aminudin Siregar sekaligus membuka pintu pameran. Penggunjung pembukaan pameran sekitar 250 orang terdiri dari seniman, siswa SMA, mahasiswa seni dari kampus STSI dan anggota masyarakat umum. Yang menarik adalah bahwa sebagian besar fokus pada karya-karya yang ditampilkan, tampaknya setiap karya seni mempunyai penikmat masing-masing. Ada orang yang berusaha untuk membaca teks pada karya S.E. Dewantoro yang berjudul “Atas Nama Tuhan” dan mengikuti alur cukilan diatas multiplek; yang lainnya menjulurkan leher mereka dan mengintip ke dalam toilet Henryette Louise dan mencoba menguraikan “kotoran” yang disentor louise melalui lubang pembuangan, beberapa pengunjung berpose dengan robot dan pesawat udara dari instalasi Drajad Wibowo; karya Irfan Hendrian mengajak audience untuk lebih kontemplatif, walau karyanya berbicara pada masalah kapitalisme dengan ikon perubahan wajah Indonesia; dan akhirnya para pengunjung bisa mengeksplorasi rasa sakit dan keinginan dengan mengikuti mawar dan anjing dari dunia Betta Is.
Continue reading Kerensa’s Response on INI PERANG…
513 Erwin Budihartanto – dRaWINg solo exhibition

Erwin Budihartanto is an autodidact artist, one of my friend and I salute his effort so far in art world. For many years he has consistently sharpened his skill in drawing with a fine quality. And today he exhibits his drawing since year 2000 to today at Gallery BOBI, rumahproses, Bandung, Indonesia. I helped designing a poster and a catalog for him.
504 ART JOG 2011

16 – 29 July 2011 @ Taman Budaya Yogyakarta, Indonesia. I’m one of the participant artist in there. http://www.artfairjogja.com
497 Ini PERANG
Ini PERANG – Artist Residency & Kembang Gula Rasa Baru Group Exhibition @ Gallery 212 STSI, Bandung, Indonesia, 24 – 31 May 2011
Curatorial Note
[In Indonesian]
Dari Pameran: INI PERANG, Seniman: Betais, Drajad Wibowo, Henryette Louise, Irfan Hendrian, dan S.E Dewantoro, Galeri STSI 212-Bandung.
Perang: antara Ideologi dan Ingatan Kolektif
Akan tiba suatu masa ketika kekerasan menjadi primadona dan sikap anarkis dirayakan bersama-sama. Begitulah konon masa depan dunia manusia akan terjadi. Bila dicari pertanyaaan-pertanyaan, apa yang hendak kita maknai sesungguhnya ketika perang-kekerasan di sekitar kita sedang berkecamuk? Lantas apakah yang menjadi motif atau tujuan manusia yang sesungguhnya hendak dicapai saat perang dilakoni, saat beribu-ribu korban nyawa manusia bahkan berjuta-juta nyawa manusia telah digadai? Penaklukan, perayaan kemenangan, ataukah memang hanya soal segelintir nafsu kekuasaan dan keserakahan manusia? Mungkinkah perang juga soal suratan takdir kalaulah pendekatan illahiah itu dilakukan? Tapi bagi yang lupa, perang juga bukan yang lain atau di luar sana (out there) tapi sungguh dekat, di sini dalam diri-jiwa kita, seperti kata perintah nabi Muhammad SAW seusai menunaikan perang Badr: “Raja’na min jihad al-asghar ila jihad al-akbar” (Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad besar). Continue reading Ini PERANG…
491 A Note from Secular World Exhibition
Artist’s Statement
Pemahaman agama dengan sudut pandang surga sebagai tujuan, dunia pertama, dunia sakral yang memilki sifat vertikal, sedangkan bumi kita adalah dunia kedua, dunia profan yang memiliki sifat horisontal, dunia sementara tempat persinggahan kita sebelum menuju dunia pertama. Tapi ketika manusia telah melesat cepat menggapai langit dan melihat kenyataan dari surga, konsep tersebut berubah lagi dan terus menerus berubah setiap kali manusia menjelajah lebih tinggi hingga konsep religi menjadi ilusi semata. Proses pejelajahan manusia mengelilingi dunia dan semesta telah memaparkan fakta-fakta baru tentang dunia yang hadir di luar kita.
Medium kertas, bagi saya, menjadi menjadi suatu mediator antara realita dan imajinasi, serta interaksi dalam melihat dan memahami dunia di sekeliling saya, kertas menjadi suatu ruang diantara dunia yang nyata dan dunia ilusi yang kita ciptakan.
Religious teachings tend to view heaven as the ultimate destination – the primary world, a sacral world, whereas earth is the secondary world, it is a profane world and simply a stopover prior to reaching the first world of heaven. Yet when man reaches the sky and sees the fact of heavens, the concept that I mentioned before changed again and keeps changing each time humans explore higher and higher, until religious concept became only an illusion. Human endeavors to explore the world and the universe have presented new facts to us outside of our daily experience. Due to repeated analysis of this process, the concept of religion has merely become an illusion.
Paper, for me, has become a mediator between reality and imagination, interaction between understandings and seeing the world around me, paper has become a space between the real world and the illusion we created.
Curatorial Note
Repetisi : Satuan adalah bagian dari keseluruhan
Sebuah batu bata yang dihasilkan oleh infrastruktur seorang pengrajin dari sebuah desa terpencil adalah bagian dari sebuah benteng di kota besar. Satuan batu bata tersebut disusun secara repetitif dan menghasilkan sebuah struktur arsitektur benteng yang kokoh, yang merupakan bagian dari sebuah suprastruktur kekuasaan. Bahwa seorang pengrajin adalah partisipan dan memiliki eksistensi dalam membangun sebuah kebudayaan. Satuan adalah bagian dari keseluruhan. Bisa jadi kisah sebuah batu bata yang menjadi bagian dari kokohnya sebuah benteng kekuasaan akan berubah, jika batu bata tersebut dipergunakan untuk melempar kaca etalase di sebuah mall. Kita mengenal repetisi adalah teknik mengulang sesuatu, yang dipergunakan dalam berbagai bentuk dari pemikiran maupun ekspresi kreatif dalam kerja kebudayaan. Dalam dunia sains hasilan dari sebuah kebenaran menggunakan repetisi dari eksperimen laboratorium yang berulang-ulang. Kecacatan dari hasil repetisi eksakta di dunia ilmu pengetahuan melahirkan sensibilitas filosofis yang menyebabkan pemahaman kita terhadap sebab dan akibat. Repetisi kita temukan pula dalam mantra yang menyatukan religiusisitas manusia dengan hal-hal adikodrati atau repetisi dapat kita temukan pula butir-butir dalam struktur sebuah tasbih seorang pendoa di sebuah langgar di sudut desa. Alam adalah repetisi doa dari batuan, pohonan, butiran pasir di genggaman tangan kita yang menghasilkan struktur dataran, lembah dan puncak gunung berlapis kabut yang terhisap kumpulan awan dan memproduksi bulir-bulir air dari curah hujan yang menjelma gemercik aliran sungai yang damai atau ancaman gemuruh benteng air tsunami yang meluluh lantakan kehidupan dalam sebuah pantai yang sepi tanpa kehidupan . Jika kita hendak memeriksa sebuah struktur ada baiknya kita memeriksa satuan-satuannya karena satuan mengungkapkan keseluruhan struktur. Continue reading A Note from Secular World Exhibition…
Powered by WordPress with Hiperminimalist Theme, copyrighted by Irfan Hendrian.







