358 Blora
Blora, Jawa Tengah, banyak orang yang tidak yakin di mana keberadaannya, bahkan banyak yang belum mendengar apapun tentang kota itu.
Daerah ini kaya akan kekayaan alam, di tanah yang subur ini ditanam berbagai jenis tanaman pertanian ,perkebunan dan hutan jati. Jati, dari akar, batang dan daunnya, menjadi buah sumber kebudayaan masyarakat blora. Banyak furniture dan peralatan yang terbuat dari kayu jati dengan design yang khas.
Di Klopoduwur, Kabupaten Blora, masih ada suku Samin, meskipun beberapa kebudayaan telah hilang dimakan era modernisasi; karena generasi-generasi yang konservatifnya pindah ke Pati, tapi beberapa peninggalan kebudayaan masih bisa ditemukan di sana. Yang menarik dari orang-orang Samin adalah sifat jujurnya, selama penelitian saya “nongkrong” di warung kopi seharian, diskusi santai dan “blak-blakan” tanpa sensor dengan masyarakat. Cara hidup sederhana suku Samin adalah suatu inspirasi.
Riset suku Samin akan ditulis belakangan, bukan di artikel ini.
Blora adalah kota yang tenang, sepi, sederhana dan damai, merupakan pelarian saya dari kota yang penuh dan penat. Waktu di kota ini terasa lambat, cocok untuk membaca dan menenangkan pikiran.
352 Post Reformasi, Kematian Demokrasi
Wahai partai-partai dan lembaga-lembaga agama, apakah jasamu bagi negara ini sampai sekarang ini kalian seakan-akan lebih berkuasa dari MPR. Sewaktu revolusi kemerdekaan para pemuda, pelajar dan militerlah yang berjasa, bukanlah kalian, bahkan kalian hanya berusaha membuat sistem totalitarian baru, yang sejak dulu kita lawan, berdasarkan agama. Setelah Orde Baru jatuh, yaitu kembali kepada jasa para pemuda dan pelajar, kebebasan kepada partai-partai dan lembaga-lembaga agama teraih secara total tanpa ada kontrol lagi dari para pemimpin, bahkan partai-partai dan lembaga-lembaga oposisi hampirlah tidak ada kekuatan untuk melawan.
Apakah kita perlu berterima kasih akan pembantaian PKI, pengeboman Bali dan berbagai pelanggaran HAM? Apakah sejarah-sejarah gelap kalian sekarang sudah tertutup di bawah bangunan-bangunan institusi agama, dilupakan dengan pencucian otak masyarakat?
Tulisan ini bukan bertujuan untuk menyudutkan suatu pihak agama, melainkan mempertanyakan apakah kita perlu memegang kepercayaan beragama yang seharusnya bersifat pribadi sampai ke ranah politik dan sosial.
Proses demokrasi yang lambat dan tidak terlihat arahnya dalam era reformasi ini menyebabkan ketergantungan masyarakat akan suatu keyakinan baru, suatu sistem yang praktis dan cepat, meskipun sistem itu akan membunuh demokrasi tersebut. Demokrasi hanyalah menjadi jalan pintas untuk menuju totalitarian baru yang kehilangan kemanusiaannya. Keyakinan akan demokrasi haruslah kita pegang teguh untuk kebebasan kita untuk berkembang, berekspresi dan beropini, bukan hanya untuk generasi kita saja tapi juga untuk yang mendatang.
Ada banyak jenis mata. Bahkan Spinks pun punya mata: dan karena itu ada banyak “kebenaran”, dan karena itu tak ada “kebenaran”. – Nietzsche
Powered by WordPress with Hiperminimalist Theme, copyrighted by Irfan Hendrian.

